+62 878-2500-0482 [email protected]

Program Overseas Babussalam tidak hanya membawa peserta untuk berumroh, tetapi juga menimba ilmu langsung dari sumbernya. Mereka duduk di halaqoh-halaqoh ilmu, belajar dari para syaikh, dan merasakan atmosfer keilmuan yang hanya bisa ditemukan di tanah haram.

Perjalanan spiritual kami dimulai dengan penuh haru di Bandara Soekarno Hatta. Suasana hangat keluarga, doa yang dipanjatkan dengan khidmat, dan mata yang berkaca-kaca menjadi saksi awal perjalanan menuju tanah suci. Perasaan campur aduk antara bahagia, haru, dan rindu pada Baitullah mulai terasa begitu kuat.

Setelah beberapa jam di udara, kami tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Udara panas khas Arab menyambut, namun tak mengurangi sedikitpun getaran iman di dada. Dari sini, perjalanan dilanjutkan menuju Mekkah, dengan hati berdebar menyambut panggilan Ilahi.

Dan tibalah saat yang paling dinantikan : prosesi umroh. Dengan mengenakan ihram, kami melangkah penuh khidmat ke Masjidil Haram. Saat pertama kali melihat Ka’bah, air mata tak terbendung. Thawaf dilakukan dengan penuh ketundukan, sa’i dengan penuh pengharapan, dan tahallul sebagai penyempurna. Setiap langkah terasa sebagai bentuk cinta dan kepasrahan tertinggi.

Usai menjalankan ibadah umroh, kami menjelajahi kota Taif dengan menaiki kereta gantung. Dari ketinggian, panorama kota yang dikelilingi pegunungan terhampar indah, sejuk, dan menyejukkan hati. Perjalanan dilanjutkan ke sebuah peternakan unta, di mana kami berkesempatan melihat langsung unta-unta yang gagah dan mencicipi kesegaran susu unta langsung dari sumbernya sungguh pengalaman alami yang mengesankan.

Spiritual journey berlanjut ke Jabal Tsur, gunung bersejarah tempat Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar Ash-Shiddiq berlindung dalam perjalanan hijrah. Kami merenung sejenak di kaki gunung ini, membayangkan ketabahan dan pertolongan Allah dalam sejarah Islam.

Kemudian, kami mengunjungi Jabal Rahmah di Padang Arafah dan terakhir kami mengunjungi Museum Wahyu di Mekkah, yang menyajikan sejarah turunnya Al-Qur’an dengan sangat apik. Melalui diorama, manuskrip, dan penjelasan visual, kami semakin memahami betapa agungnya proses penurunan wahyu dan betapa cinta Allah kepada umat-Nya melalui petunjuk yang diturunkan.

Perjalanan ini bukan sekadar wisata religius, melainkan perjalanan cinta—cinta kepada Allah, cinta kepada sejarah Nabi, dan cinta kepada sesama jamaah. Setiap tempat, setiap momen, mengukir kenangan mendalam tentang makna cinta sejati di tanah haram Mekkah.

 


Tetap Terhubung dengan Kami

Ikuti kami di media sosial untuk mendapatkan informasi dan kegiatan lainnya: